ALAMKU Kepung BTNGC” Tuntut Transparansi Pengelolaan Sumber Mata Air Gunung Ciremai
- account_circle sabakuningannews
- calendar_month Rab, 10 Des 2025
- visibility 176
- comment 1 komentar

Img 20251210 184253
sabakuningannews.com – KUNINGAN. Gelombang demonstrasi kembali mengguncang Kabupaten Kuningan. Setelah sehari sebelumnya PERAK melakukan aksi di tiga titik strategis—Pendopo, Kejaksaan Negeri, dan DPRD—kini giliran Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) yang dikepung massa pada Rabu (10/12/2025).
Aksi kali ini digelar oleh ALAMKU (Aliansi Masyarakat Kuningan) bersama WALHI Jawa Barat, Sundawani, serta sejumlah aliansi dan komunitas pemerhati lingkungan lainnya. Ratusan massa berangkat dari titik kumpul Cirendang menuju kantor BTNGC di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, membawa satu suara: menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan kawasan Gunung Ciremai, terutama terkait pemanfaatan sumber mata air.
Sesampainya di lokasi, massa langsung mengepung area kantor BTNGC dan menyampaikan aspirasi melalui orasi bergantian. Mereka menilai BTNGC telah gagal menjaga kelestarian kawasan Gunung Ciremai dan dinilai tidak transparan dalam mengelola sumber mata air.
Salah satu poin sorotan utama adalah dugaan penyalahgunaan dan ketidakterbukaan dalam proses izin pemanfaatan air. Massa mengungkapkan adanya indikasi praktik di luar prosedur yang menimbulkan kecurigaan adanya dugaan korupsi.
Seni Debus Dibuka sebagai Simbol “Hudangna Sunda Kuningan”

Sebelum orasi dimulai, massa menggelar atraksi seni budaya debus. Aksi itu dimaknai sebagai simbol bahwa masyarakat adat Sunda Kuningan tidak akan tinggal diam bila Gunung Ciremai—yang dianggap sakral—diusik atau dikelola secara tidak benar.
“Ini bukan sekadar aksi, tapi panggilan dari hati masyarakat adat. Jika Ciremai diganggu, orang Sunda Kuningan akan hudang,” ujar salah satu koordinator lapangan.
Dua tokoh muda, Yusuf Dandi dari Masyarakat Peduli Kuningan dan Ismah Winartono dari PA GMNI, menjadi figur paling vokal.
Dalam orasinya, Yusuf menyebut telah menemukan sejumlah titik penyalahgunaan mata air yang berlangsung bertahun-tahun.
“Kami punya data. Jika ini tidak bisa diselesaikan, BTNGC mending bubar atau kepala BTNGC mundur!” tegas Yusuf, disambut sorak massa.
Ketegangan sempat meningkat, namun aksi tetap berlangsung kondusif dengan pengamanan ketat dari aparat.
BTNGC Bantah Tuduhan Pungli & Korupsi
Menanggapi tuntutan tersebut, Kepala BTNGC Toni Anwar, S.Hut menyampaikan bahwa pihaknya tengah menata ulang seluruh proses perizinan pemanfaatan air.
Toni membantah keras adanya pungutan liar maupun praktik korupsi di tubuh BTNGC.
Namun penjelasan itu belum mampu meredakan emosi massa. Bahkan mereka memberikan ultimatum: jika nanti ditemukan korupsi, BTNGC harus bubar atau pimpinan harus mundur, dan mereka siap menggelar aksi lanjutan yang lebih besar.
Aksi Ditutup dengan Doa Bersama
Menjelang akhir aksi, situasi kembali kondusif. Seluruh demonstran, aparatur keamanan, dan pegawai BTNGC melakukan doa bersama di halaman kantor BTNGC. Hadir dalam kegiatan ini Kapolres Kuningan AKBP Ali Akbar, jajaran Kodim 0615/KNG, Dishub, Satpol PP, pegawai BTNGC, serta sejumlah perwakilan masyarakat.
Aksi ditutup dengan harapan agar persoalan pengelolaan sumber mata air Gunung Ciremai segera menemukan titik terang, serta menjaga kelestarian salah satu ikon alam terpenting Kabupaten Kuningan.(RI)
- Penulis: sabakuningannews



Opa! Me falaram da Stakerbet, e parece que tão dando uns bônus maneiros. Será que vale a pena se cadastrar? Alguém aí já testou a plataforma deles? Dá uma olhada aqui: stakerbet
23 Desember 2025 12:11 am