Dari Kota Wali ke Panggung Nasional: Batik dan Topeng Cirebon Naik Kelas Lewat Pendampingan Berkelanjutan
- account_circle sabakuningannews
- calendar_month Sab, 21 Feb 2026
- visibility 34
- comment 0 komentar

Img 20260221 Wa0048
sabakuningannews.com.CIREBON – Dari sudut-sudut kampung di Kota Wali, lahir karya-karya yang kini menembus panggung nasional. Batik dan topeng khas Cirebon tak lagi sekadar produk tradisi, melainkan simbol kebangkitan ekonomi perempuan prasejahtera berkat pendampingan berkelanjutan dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
Di balik pertumbuhan usaha kecil, tersimpan proses panjang: belajar, mencoba, jatuh, dan bangkit kembali. Bagi jutaan perempuan prasejahtera, kesempatan berkembang bukan hanya soal tambahan modal, tetapi tentang hadirnya pendamping yang membuka akses dan jejaring lebih luas. Melalui pendekatan pemberdayaan menyeluruh, PNM menghadirkan pembiayaan, pelatihan usaha, hingga akses kolaborasi kreatif agar pelaku usaha ultra mikro dan mikro mampu tumbuh berkelanjutan.
Komitmen tersebut tercermin dari kiprah nasabah PNM Mekaar Cabang Cirebon, Ariri, pengrajin batik yang mendapat kesempatan emas berkolaborasi dengan desainer ternama Indonesia, Rinaldy Yunardi. Karya kolaboratif itu ditampilkan dan dilelang dalam rangkaian kegiatan Sonderlab x Kaca Kreatif pada 23–26 Oktober 2025, dengan seluruh hasil lelang didonasikan untuk mendukung pendidikan di Indonesia.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa karya pelaku usaha ultra mikro bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa dampak sosial yang luas.
“Saya tidak pernah menyangka usaha batik yang sederhana bisa tumbuh sejauh ini. Terima kasih kepada PNM yang selalu mendampingi, memberi pelatihan, hingga akhirnya saya diberi kesempatan berkolaborasi dengan desainer sekelas Rinaldy Yunardi. Ini bukan hanya kebahagiaan bagi saya, tapi juga kebanggaan bagi keluarga dan daerah saya,” ujar Ariri penuh haru.
Tak hanya batik, semangat serupa juga datang dari pengrajin topeng asal Kota Udang, Sri. Sejak 2010, ia menekuni kerajinan topeng yang berakar dari kecintaannya pada seni tradisi. Pengalamannya sebagai penari topeng di Keraton Kasepuhan Cirebon membentuk kedekatan kuat dengan budaya leluhur. Berbekal kreativitas, ia mengembangkan inovasi dari topeng kayu tradisional menjadi produk turunan seperti pulpen, pensil, hingga magnet kulkas berhias topeng—membawa seni tradisi hadir dalam keseharian masyarakat.
Momentum penting hadir pada 2022 ketika Sri bergabung dalam program Mekaar dan memperoleh pendampingan, pelatihan, serta akses pameran. Perjalanan itu berlanjut pada 2025 melalui program Mekaarpreneur, yakni inkubasi usaha intensif selama tiga bulan di Bandung.
Pemimpin Cabang PNM Cirebon, Erwin Syafriadi, menegaskan bahwa pendampingan berkelanjutan menjadi kunci agar pengusaha memiliki daya saing tanpa kehilangan jati diri lokalnya.
Hingga Januari 2026, lebih dari 22,9 juta nasabah telah diberdayakan oleh PNM. Kisah Ariri dan Sri menjadi representasi nyata bahwa ketika akses permodalan dipadukan dengan pembinaan dan ruang aktualisasi, warisan budaya dapat naik kelas—menjadi sumber kesejahteraan keluarga sekaligus kebanggaan daerah.
Dari Kota Wali ke panggung nasional, batik dan topeng Cirebon membuktikan: tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi kekuatan masa depan. (*)
- Penulis: sabakuningannews



Saat ini belum ada komentar