Nasabah PNM Ikut Pelatihan ‘ Sulap Sampah Jadi Cuan Lewat Klaster Maggot
- account_circle sabakuningannews
- calendar_month Sen, 23 Feb 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar

Img 20260223 185838
sabakuningannews.com. KUNINGAN — Upaya pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan ekonomi terus menunjukkan progres positif di Kabupaten Kuningan. Melalui program Klasterisasi Budidaya Maggot, sebanyak 30 nasabah PNM Mekaar Unit Jalaksana mendapatkan pelatihan pengolahan limbah organik menjadi komoditas bernilai ekonomi.
Program yang dilaksanakan di wilayah Region Cirebon-2 oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM) ini menyasar perempuan prasejahtera, khususnya ibu rumah tangga. Tujuannya jelas: memperkuat kemandirian ekonomi keluarga sekaligus mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan dari tingkat rumah tangga.
Pemimpin Cabang PNM Cirebon, Erwin Syafriadi, menjelaskan bahwa pelatihan budidaya maggot jenis Black Soldier Fly (BSF) dirancang dengan pendekatan klaster. Artinya, peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis budidaya, tetapi juga diarahkan membangun kerja kolektif yang terintegrasi dengan orientasi pasar.
“Limbah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai media budidaya, sementara hasilnya berupa maggot dan kasgot memiliki nilai jual sebagai pakan ternak berprotein tinggi serta pupuk organik,” jelasnya.

Selama tiga bulan, program ini mendapatkan pendampingan intensif dari Universitas Muhammadiyah Cirebon. Pendampingan meliputi teknik budidaya, manajemen usaha sederhana, hingga strategi pemasaran agar produk mampu bersaing dan berkelanjutan di pasar.
Antusiasme peserta pun tinggi. Para ibu rumah tangga mengaku kini memiliki perspektif baru terhadap sampah rumah tangga. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, kini justru menjadi sumber penghasilan tambahan.
Program Klaster Maggot ini merupakan bagian dari komitmen PNM dalam menghadirkan pemberdayaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Penguatan ekonomi perempuan dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan keluarga.
“Melalui klaster ini, kami ingin menciptakan usaha yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan,” ujar Erwin.
Kolaborasi antara lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, dan masyarakat diharapkan mampu membentuk ekosistem ekonomi sirkular yang memberi manfaat ekonomi, sosial, sekaligus lingkungan di Kabupaten Kuningan.
Sejalan dengan itu, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat timbulan sampah nasional Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 24,94 juta ton per tahun dari 246 kabupaten/kota. Mayoritas di antaranya merupakan sampah organik yang belum dikelola secara optimal.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa pengelolaan limbah organik bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan peluang ekonomi yang menjanjikan. Melalui budidaya maggot, sampah rumah tangga yang selama ini menjadi beban dapat diubah menjadi sumber pendapatan baru, sekaligus menjadi contoh praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berdaya guna dan berkelanjutan.
“Semoga program ini membawa manfaat luas bagi masyarakat dan menjadi model pemberdayaan yang bisa direplikasi,” pungkas Erwin Syafriadi.(*)
- Penulis: sabakuningannews



Saat ini belum ada komentar