Breaking News
light_mode
Beranda » Budaya » Suara Lantang Penyangga Hutan || Kami Yang jaga Hutan, Kami Yang Tanam ,Kami Yang Rawat,Kami Bukan Penjahat !!!

Suara Lantang Penyangga Hutan || Kami Yang jaga Hutan, Kami Yang Tanam ,Kami Yang Rawat,Kami Bukan Penjahat !!!

  • account_circle sabakuningannews
  • calendar_month Rab, 25 Feb 2026
  • visibility 26
  • comment 0 komentar

sabakuninganews.com.Kuningan – Slogan “Kuningan konservasi” yang kerap digaungkan di ruang-ruang resmi, suara warga desa penyangga hutan justru terdengar lirih. Mereka bukan penonton, bukan pula pengganggu kawasan. Mereka adalah penanam, penjaga, sekaligus perawat hutan. Namun hari ini, mereka merasa dipersulit di tanah yang mereka rawat sendiri.

Setelah menunggu beberapa jam hasil pertemuan Bupati Dr H Dian Rachmat Yanuar MSi dengan perwakilan Kepala Desa dan Kelompok Tani Hutan di pendopo, Rabu, (25/02), Dodo Darsa seorang petani getah pinus yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH), tak mampu lagi menyembunyikan kelelahan yang ia dan rekan-rekannya rasakan. Dengan nada getir, ia menyampaikan apa yang selama ini dipendam.

“Di Kuningan ini semua tahu, Kuningan disebut kabupaten konservasi. Tapi kami yang di desa penyangga ini pelaku, pelaku konservasi di sekitar Ciremai. Kami menanam, kami yang jaga, kami yang rawat. Bahkan kalau ada kebakaran, kami pantang pulang sebelum api padam,” ujarnya.

Bagi Dodo, hutan bukan hanya hamparan pekat vegetasi pepohonan. Hutan adalah bagian dari kehidupan warga desa penyangga. Ia dan warga lainnya selama ini menanam di area eks karhutla, menjaga hutan dari kebakaran, merawatnya bertahun-tahun.

Bahkan banyak pohon pinus menyimpan sejarah, ternyata sebagian pinus di tanam warga di masa lalu. Saat kemitraan antara Pengelola Ciremai yaitu Perhutani dan Warga Desa Penyangga berjalan sangat harmonis. Namun ketika tiba waktunya meminta hak getah, mereka justru dihadapkan pada persoalan hukum yang tak kunjung jelas, ditambah stigma negarif hingga provokasi bertahun-tahun.

“Salahkah ketika kami mengambil hak getah (HHBK)? Kami yang nanam, kami yang jaga, kami yang rawat. Cuma karena ada aturan negara yang mengikat, ya tolong kasih kami baju. Baju itu apa? PKS,” tegasnya.

PKS atau Perjanjian Kerja Sama kemitraan konservasi menjadi harapan yang terus ditunggu. Dokumen itu bukan sekadar administrasi, melainkan perlindungan hukum agar masyarakat bisa bekerja tanpa rasa takut. Namun hingga kini, proses yang diajukan ke meja BTNGC berulang kali belum juga membuahkan hasil.

“Sudah terlalu lama. Kami lelah, kami capek. PKS yang kami ajukan terus-menerus belum juga jadi. Kami merasakan marah, kami emosi dengan berbagai provokasi, tapi kami bisa bersabar sampai titik ini,” ungkap Dodo berkaca-kaca.

Ia tak menampik, tak bisa berbuat banyak dengan status gantung HHBK di zona yang disediakan. Di sisi lain, kebutuhan hidup tak bisa ditunda. Penyadapan Getah Pinus di Zona Tradisional adalah satu satunya mata pencaharian, supaya ekonomi rumah tangga berjalan. Perlu diingat, ada banyak petani lain bernasib seperti Dodo Darsa tergabung sebagai anggota KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning.

“Kalau aturannya jelas dan ada, kami patuh. Tapi kalau dipersulit terus, kami harus bagaimana? Kenapa susah sekali memberikan PKS saja? Ada apa dengan TNGC? Mereka seharusnya mitra kami,” katanya, merujuk pada aturan pengelola kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.

Dodo menyebut, masyarakat yang bergantung pada penyadapan getah pinus bukan hanya satu dua orang. Ada sekitar 28 desa penyangga di Kuningan dan Majalengka, dengan ratusan kepala keluarga menggantungkan nafkah dari hasil hutan bukan kayu tersebut.

“Pinus itu sudah ada sebelum TNGC. Mereka (pengelola baru) tidak pernah nanam pinus. Kami yang nanam, kami yang jaga, kami yang rawat. Kenapa kami malah seperti diposisikan sebagai masalah?” ucapnya.

Ironis, perjuangan mereka, kata Dodo, sudah melewati tiga periode kepemimpinan Bupati di Kuningan. Harapan demi harapan datang dan pergi, namun kepastian hukum belum juga terbit.

“Kami sudah lelah. Sudah tiga bupati. Sampai kapan kewajiban negara mau diberikan ke kami? Kami ini bukan penjahat. Kami penjaga hutan,” tuturnya.

Bagi warga desa penyangga, konservasi bukan sekadar jargon. Mereka hidup berdampingan dengan hutan, menjaga tanpa diminta, memadamkan api tanpa diperintah. Yang mereka minta bukan keistimewaan, melainkan pengakuan dan perlindungan.

Kini, harapan kembali dititipkan pada komitmen pemerintah daerah untuk mengawal kepastian hukum petani getah pinus. Apakah negara hadir untuk mereka, atau justru menjauh ketika rakyat kecil memohon perlindungan? (*)

  • Penulis: sabakuningannews

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Img 20250820 063916

    Dalam Rangka HUT RI ke-80,” Ratusan Warga Binaan Lapas Kuningan Terima Remisi

    • calendar_month Sel, 19 Agu 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 219
    • 2Komentar

    sabakuninganews.com.KUNINGAN – Dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, ratusan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kuningan mendapatkan pengurangan masa hukuman atau remisi. Penyerahan remisi berlangsung pada Minggu (17/8/2025) dan diberikan secara simbolis oleh Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. Kepala Lapas Kelas IIA Kuningan, Julianto Budhi […]

  • Img 20251021 141656

    Kerja sama Kuningan & Cirebon ” Bupati Cirebon Sepakati Kenaikan Kompensasi Pengelolaan Air

    • calendar_month Sel, 21 Okt 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 179
    • 2Komentar

    sabakuningannews.com.KUNINGAN- Hubungan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon kembali diperkuat melalui penandatanganan perubahan perjanjian kerja sama pengelolaan sumber daya air yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Kuningan, Senin (20/10/2025). Dalam acara penuh keakraban tersebut, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. dan Bupati Cirebon Drs. H. Imron, M.Ag. menandatangani dokumen perubahan perjanjian […]

  • Lv 0 20250922125726

    Pemkab Kuningan Gelar Apel Pagi di Desa: “Ini Akan Terus Dilakukan,” Agar Lebih Dekat Dengan Masyarakat ” Tegas Bupati Dian

    • calendar_month Sen, 22 Sep 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 449
    • 22Komentar

    sabakuningan.com. KUNINGAN – Suasana apel pagi jajaran Pemerintah Kabupaten Kuningan, Senin (22/9/2025), terasa berbeda dari biasanya. Jika umumnya digelar di halaman Setda, kali ini apel berlangsung di halaman Kantor Desa Sumurwiru, Kecamatan Cibeureum. Dari lokasi tersebut, Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., bertindak sebagai pembina apel sekaligus meluncurkan Kick Off Perbaikan Jalan dan […]

  • Hadiri Puncak HUT (IGTKI) PGRI” Bunda Ela Berpesan ” pendidikan anak usia dini’ pondasi utama membentuk generasi emas masa depansa

    Hadiri Puncak HUT (IGTKI) PGRI” Bunda Ela Berpesan ” pendidikan anak usia dini’ pondasi utama membentuk generasi emas masa depansa

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 373
    • 0Komentar

    sabakuningannews.com.KUNINGAN.Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) PGRI Kabupaten Kuningan menggelar acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75, Sabtu (24/5/2025), di Auditorium SMKN 3 Kuningan. Acara ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran strategis guru taman kanak-kanak dalam mendukung pendidikan anak usia dini (PAUD).Hadir dalam acara tersebut Bunda PAUD Kab. Kuningan Hj. Ela Helayati, S.Sos, […]

  • Img 20260216 122800

    Musda XVII KNPI Kuningan Dorong Regenerasi Berkualitas dan Kepemimpinan Solutif

    • calendar_month Sen, 16 Feb 2026
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 42
    • 0Komentar

    sabakuningannews.com.KUNINGAN — Musyawarah Daerah (Musda) XVII Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kuningan menjadi momentum strategis dalam mendorong regenerasi kepemimpinan pemuda yang lebih berkualitas, solutif, dan berbasis data. Forum tertinggi organisasi kepemudaan ini diharapkan tidak sekadar menjadi agenda rutin lima tahunan, tetapi menjadi titik tolak penguatan peran pemuda dalam pembangunan daerah. Ketua Organisasi Kepemudaan (OKP) […]

  • Img 20251115 045322

    Perdana || Peringatan Hari Ayah Di Lingkup Pemerintah Daerah Kab.Kuningan

    • calendar_month Jum, 14 Nov 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 177
    • 4Komentar

    sabakuningannews.com.KUNINGAN — Suasana haru dan penuh makna mewarnai Peringatan Hari Ayah Nasional yang untuk pertama kalinya digelar Pemerintah Kabupaten Kuningan. Dengan mengusung tema “Kasih Ayah Sepanjang Jalan, Inspirasi Tanpa Batas”, kegiatan yang berlangsung di Teras Pendopo pada Jumat (14/11/2025) ini dihadiri berbagai unsur penting daerah, serta menghadirkan dua narasumber inspiratif: Miftahly Nurrokhim dan Muhammad Ifan […]

expand_less