Ikan Dewa Mati Massal, Benarkah Akibat Pintu Air PDAM Ditutup? Simak Penjelasan Nya !!!
- account_circle sabakuningannews
- calendar_month Kam, 5 Feb 2026
- visibility 70
- comment 0 komentar

Img 20260205 070347
sabakuningannews.com – Fenomena kematian massal ikan dewa di kawasan Balong Girang, Kecamatan Cigugur, mengundang perhatian luas masyarakat. Isu yang berkembang menyebutkan kematian ikan keramat tersebut dipicu oleh penutupan pintu air PDAM. Menyikapi polemik itu, Pemerintah Kabupaten Kuningan bergerak cepat.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. langsung memimpin rapat musyawarah lintas sektor yang digelar di lokasi Balong Girang, guna mencari akar persoalan sekaligus merumuskan langkah penanganan terpadu.
Musyawarah tersebut melibatkan berbagai unsur strategis, di antaranya DISKANAK, DLH, PUTR, PDAU, PDAM, BBWS, TNGC, DISPORAPAR, Kapolsek Cigugur, Koramil, Camat Cigugur, Lurah Cigugur, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Barat, POKDARWIS, LPM, Karang Taruna, serta tokoh masyarakat setempat.
“Musyawarah ini kita lakukan agar semua pihak satu persepsi, tidak saling menuding, dan fokus pada solusi. Dari hasil pembahasan, ditemukan beberapa faktor penyebab dan kita akan segera mengambil langkah-langkah konkret,” tegas Bupati Dian.
Ketua LPM Kelurahan Cigugur, Aang, mengungkapkan dugaan kuat bahwa kematian ikan dewa berkaitan dengan terganggunya ekosistem Balong Girang. Menurutnya, pendangkalan kolam, tersumbatnya sirkulasi air, serta tertimbunnya sumur alami yang selama ini menjadi sumber oksigen dan tempat berkembang biak ikan, berkontribusi besar terhadap penurunan kualitas habitat.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, Dr. A. Taufik Rohman, M.Si., M.Pd, menjelaskan bahwa kematian ikan mulai terpantau sejak 29 Januari 2026 dan terus meningkat hingga hari ketujuh.
“Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, jumlah ikan dewa yang mati mencapai sekitar 305 ekor,” ujarnya.
Ia memaparkan, gejala klinis yang ditemukan antara lain ikan tampak lemas dan pasif, terdapat luka kemerahan pada tubuh, insang pucat hingga memutih, serta sisik yang mudah terlepas. Pemeriksaan juga menemukan infestasi cacing jangkar pada kulit, insang, dan rongga mulut ikan.
Sebagai langkah awal penanganan, Tim Teknis Diskanak bersama instansi terkait telah melakukan pengangkatan dan pemusnahan ikan mati secara aman, isolasi ikan yang sakit, stabilisasi kualitas air melalui pergantian air bertahap dan penyesuaian pH, pemberian garam krosok serta tumbuhan daun kipahit, hingga pompanisasi untuk membantu sirkulasi air.
Dari hasil musyawarah juga terungkap fakta penting bahwa Balong Girang telah lebih dari 20 tahun tidak pernah dikuras. Kondisi ini dinilai memperparah pencemaran air dan penumpukan sedimen organik.
Untuk penanganan jangka menengah dan panjang, Bupati Dian meminta perangkat daerah terkait segera mengeksekusi langkah lanjutan, di antaranya:
- Pengurasan kolam secara teknis dan bertahap
- Perbaikan sumber air masuk (inlet) dan air keluar (outlet)
- Normalisasi sirkulasi air guna menjaga stabilitas debit
- Pengelolaan kualitas air secara berkelanjutan melalui pengecekan rutin parameter air
- Pembangunan kolam karantina di sekitar Balong Girang Cigugur
- Kajian teknis pemulihan ekosistem Balong Keramat
Dengan langkah terpadu tersebut, Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap ekosistem Balong Girang dapat pulih dan ikan dewa sebagai simbol budaya serta kearifan lokal Cigugur tetap lestari. (Red)
- Penulis: sabakuningannews



Saat ini belum ada komentar