Breaking News
light_mode
Beranda » Budaya » Tudingan Menyudutkan Masyarakat Penyangga ” Mereka Bukan Maling, Tapi Mitra Konservasi dan sudah melalui prosedur” Tegas Asep Papay

Tudingan Menyudutkan Masyarakat Penyangga ” Mereka Bukan Maling, Tapi Mitra Konservasi dan sudah melalui prosedur” Tegas Asep Papay

  • account_circle sabakuningannews
  • calendar_month Jum, 20 Feb 2026
  • visibility 117
  • comment 0 komentar

sabakuningannews.com.Kuningan — Polemik pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), khususnya penyadapan getah pinus di zona tradisional kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), terus bergulir dan memantik perdebatan publik. Di tengah derasnya tudingan ilegal serta stigma “maling” yang dialamatkan kepada warga desa penyangga, fakta di lapangan menunjukkan proses kemitraan konservasi telah berjalan lama dan melalui prosedur resmi.

Tokoh pemuda dan aktivis sosial Asep Susan Sonjaya Suparman, akrab disapa Asep Papay, menyampaikan keprihatinannya atas tudingan yang dinilai menyudutkan masyarakat. Ia menegaskan, Kelompok Tani Hutan (KTH) telah menunggu terbitnya Perjanjian Kerja Sama (PKS) sejak 2022, setelah melalui proses verifikasi subjek oleh Balai TNGC.

“Sejak 2022 warga menunggu PKS yang seharusnya diterbitkan. Verifikasi sudah dilakukan, bahkan dua kali updating. Terakhir, terkonfirmasi KTH dari 13 desa itu diketahui dan direkomendasikan kepala desa masing-masing. Bukan orang luar,” tegas Asep Papay.

Menurutnya, aktivitas penyadapan dilakukan dalam ruang interaksi yang sah, yakni zona tradisional yang telah diatur dalam regulasi taman nasional. Ia menilai polemik yang mencuat justru mengaburkan fakta bahwa satu-satunya tahapan yang belum rampung hanyalah penerbitan PKS.

“Ini bukan kegiatan liar. Ini ruang interaksi yang sudah diatur. Tinggal PKS-nya saja,” ujarnya.

Asep memaparkan, selama ini KTH justru menjadi mitra aktif dalam menjaga kelestarian kawasan. Saat terjadi kebakaran hutan, kelompok tani hutan berada di barisan terdepan. Ia mencontohkan KTH Sapu Jagat di Desa Setianegara yang mampu memobilisasi KTH lain dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

“Dua tahun terakhir zero fire. Itu bukan kebetulan. Mereka punya persemaian pohon endemik Ciremai, aktif menanam dan merawat,” ungkapnya.

Secara swadaya, KTH membangun sekat bakar, melakukan pembibitan hingga penanaman pohon di berbagai titik. Salah satu persemaian terbesar berada di kawasan Geger Halang. Bibit hasil persemaian tersebut bahkan didistribusikan untuk kegiatan penanaman di sejumlah kawasan wisata dan ODTWA di Kuningan.

“Ketika penanaman besar di Arunika, sekitar 80 orang yang turun itu KTH. Mereka solid,” katanya.

Soliditas itu tidak hanya di Kuningan, tetapi juga lintas wilayah hingga Majalengka. Tercatat sekitar 28 KTH saling mendukung dalam kegiatan konservasi.

Asep mengaku heran karena secara regulasi dasar hukum kemitraan konservasi, zona tradisional, hingga juknis PKS telah jelas. Namun implementasi dinilai berlarut-larut.

“Ini sudah saya sampaikan sampai ke Kementerian. Bahkan sempat ada informasi bahwa zona tradisional di TNGC tidak diketahui di tingkat atas. Artinya, mungkin ada persoalan koordinasi,” ujarnya.

Ia menduga persoalan utama bukan pada warga, melainkan pada alur administrasi internal. Jika terdapat kekurangan teknis, menurutnya, seharusnya disampaikan secara terbuka.

“Misalnya anggota KTH tidak boleh lebih dari 50 orang, kalau 70 ya di-split. Itu teknis. Tapi tidak pernah dijelaskan secara terang,” tambahnya.

Meski demikian, Asep mengapresiasi sikap masyarakat yang tetap kondusif dan tidak melakukan aksi reaktif. Ia terus mengimbau warga untuk bersabar menunggu kepastian hukum.

“Faktanya 25 KTH sudah diverifikasi dan PKS terus berproses. Jangan anarkis,” katanya.

Asep menilai situasi ini seharusnya menjadi pintu masuk bagi pemerintah daerah untuk hadir memfasilitasi masyarakat desa penyangga Gunung Ciremai. Sebab, persoalan ini menyangkut hajat hidup KTH dari 13 desa di Kuningan.

“Kalau dikalikan dengan keluarga mereka, jumlahnya sangat besar. Jangan sampai mereka tercerabut dari gunungnya sendiri,” tegasnya.

Ia mengingatkan, warga desa penyangga hidup berdampingan dengan hutan secara turun-temurun. Pengetahuan menjaga hutan diwariskan lintas generasi. Mereka juga aktif membersihkan sampah di kawasan taman nasional, bahkan hingga lintas kabupaten.

“Ketika diminta turun menjaga hutan, mereka selalu siap. Tapi saat berinteraksi di zona tradisionalnya sendiri, malah distigma. Ini yang miris,” ujarnya.

Menurut Asep, penyadapan pinus tidak serta-merta bisa disamakan dengan perusakan hutan. Pinus merupakan tanaman produksi yang ditanam sejak era Perhutani dan pernah disadap secara legal.

“Sekarang warga sadar getah pinus punya nilai ekonomi untuk bertahan hidup. Tapi malah disebut maling. Padahal aturannya ada,” katanya.

Asep Papay menegaskan dirinya tidak memiliki kepentingan dalam tata niaga HHBK. Ia berdiri, katanya, semata pada sisi kemanusiaan dan keadilan sosial.

“Yang diminta warga sederhana: kepastian hukum. Supaya tidak ada lagi stigma, tidak ada lagi kata-kata yang menyakiti. Harus adil dan fair. Kontribusi KTH nyata. Mereka bukan perusak, mereka penjaga,” pungkasnya.( Red)

  • Penulis: sabakuningannews

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Img 20250725 094056

    Jum’ at Bersih,” Puluhan Satgas Baladhika Bersihkan Eceng Gondok” Ketua Beni Pun Terjun Ikut Bersihkan

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 375
    • 1Komentar

    sabakuninganmews.com.DARMA– Satgas Baladhika kembali menunjukkan kepedulian sosial dan lingkungan melalui kegiatan Bakti Sosial yang digelar di kawasan sagara cipaku Kawah Manuk, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, pada Jumat (25/07/2025). Dalam kegiatan ini, puluhan anggota satgas Baladhika turut serta membantu warga membersihkan eceng gondok yang menutupi permukaan air Sagara Cipaku Kawah Manuk. Ketua DPD Korpri Beni Prihayatno,.S.,Sos., […]

  • Img 20250724 175631

    Kades Sindang Jawa’ Oom ‘ Ungkap Rasa Syukur ‘ Desa Nya Jadi Tempat TMMD ke-125

    • calendar_month Kam, 24 Jul 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 289
    • 0Komentar

    sabakuningannews.com.KUNINGAN – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 Skala Nasional Tahun 2025 resmi dibuka pada Rabu (23/7/2025), bertempat di Lapangan Sepak Bola “Putra Mayana” Desa Sindangjawa, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan. Pembukaan berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan, dengan Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. bertindak sebagai Inspektur Upacara. Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan […]

  • Img 20250712 103009

    Desa Windu Herang Rayakan Milangkala ke‑544, Lestarikan Budaya dan Sumber Mata Air

    • calendar_month Sab, 12 Jul 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 2.002
    • 2Komentar

    sabakuningannews.com.Kuningan – Desa Windu Herang, Kecamatan Cigugur, menggelar perayaan Milangkala ke‑544 tahun dengan meriah dan penuh makna pada Saptu (17/7/2025). Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi warga sekaligus pelestarian budaya serta sumber daya alam, khususnya mata air yang menjadi ciri khas desa ini. Perayaan dibuka dengan prosesi adat Babarit—ritual sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur atas […]

  • Img 20251217 110147

    Gedung Eks RS Citra Ibu Disulap Jadi Kampus Poltekkes KMC Kuningan

    • calendar_month Rab, 17 Des 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 190
    • 5Komentar

    sabakuninganews.com. KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan kembali menunjukkan komitmennya dalam mengelola aset daerah secara produktif. Gedung eks Rumah Sakit Citra Ibu (Klinik Sajati) kini resmi dimanfaatkan sebagai kampus Politeknik Kesehatan (Poltekkes) KMC Kuningan, melalui kerja sama pemanfaatan dengan Yayasan Wadia Insan Mandiri. Pemanfaatan aset strategis di jantung kota Kuningan ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja […]

  • Screenshot 20250223 125942

    Bupati Kuningan Keluarkan Surat Edaran Nataru 2025–2026, Tekankan Keamanan, Ketertiban, dan Larangan Petasan

    • calendar_month Rab, 24 Des 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 216
    • 5Komentar

    sabakuninganews.com.KUNINGAN – Menjelang perayaan Hari Natal 2025 dan pergantian Tahun Baru 2026, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si resmi mengeluarkan Surat Edaran Nomor 400/12/KESRA tentang Himbauan Peningkatan Kesiapsiagaan di seluruh wilayah Kabupaten Kuningan. Surat edaran yang ditetapkan pada 19 Desember 2025 tersebut bertujuan memastikan perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) berlangsung tertib, aman, […]

  • Img 20260305 082032

    “Ramadhan Penuh Berkah, Kecamatan Mandirancan Gelar Donor Darah dan Tarling, Bupati Dian Rachmat Yanuar Turut Hadir”

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2026
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 83
    • 0Komentar

    sabakuningannews.com.KUNINGAN – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di bulan suci Ramadan saat Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, melaksanakan sholat tarawih berjamaah di Masjid Al Barokah, Desa Mandirancan, Kecamatan Mandirancan. Kehadiran Bupati Dian tidak sendiri. Jajaran Forkopimda dan Forkopimcam turut serta dalam rangkaian kegiatan tersebut, menunjukkan kekompakan unsur pimpinan daerah dalam menjalin kedekatan dengan amasyarakat. […]

expand_less