Breaking News
light_mode
Beranda » Budaya » Tudingan Menyudutkan Masyarakat Penyangga ” Mereka Bukan Maling, Tapi Mitra Konservasi dan sudah melalui prosedur” Tegas Asep Papay

Tudingan Menyudutkan Masyarakat Penyangga ” Mereka Bukan Maling, Tapi Mitra Konservasi dan sudah melalui prosedur” Tegas Asep Papay

  • account_circle sabakuningannews
  • calendar_month Jum, 20 Feb 2026
  • visibility 215
  • comment 0 komentar

sabakuningannews.com.Kuningan — Polemik pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), khususnya penyadapan getah pinus di zona tradisional kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), terus bergulir dan memantik perdebatan publik. Di tengah derasnya tudingan ilegal serta stigma “maling” yang dialamatkan kepada warga desa penyangga, fakta di lapangan menunjukkan proses kemitraan konservasi telah berjalan lama dan melalui prosedur resmi.

Tokoh pemuda dan aktivis sosial Asep Susan Sonjaya Suparman, akrab disapa Asep Papay, menyampaikan keprihatinannya atas tudingan yang dinilai menyudutkan masyarakat. Ia menegaskan, Kelompok Tani Hutan (KTH) telah menunggu terbitnya Perjanjian Kerja Sama (PKS) sejak 2022, setelah melalui proses verifikasi subjek oleh Balai TNGC.

“Sejak 2022 warga menunggu PKS yang seharusnya diterbitkan. Verifikasi sudah dilakukan, bahkan dua kali updating. Terakhir, terkonfirmasi KTH dari 13 desa itu diketahui dan direkomendasikan kepala desa masing-masing. Bukan orang luar,” tegas Asep Papay.

Menurutnya, aktivitas penyadapan dilakukan dalam ruang interaksi yang sah, yakni zona tradisional yang telah diatur dalam regulasi taman nasional. Ia menilai polemik yang mencuat justru mengaburkan fakta bahwa satu-satunya tahapan yang belum rampung hanyalah penerbitan PKS.

“Ini bukan kegiatan liar. Ini ruang interaksi yang sudah diatur. Tinggal PKS-nya saja,” ujarnya.

Asep memaparkan, selama ini KTH justru menjadi mitra aktif dalam menjaga kelestarian kawasan. Saat terjadi kebakaran hutan, kelompok tani hutan berada di barisan terdepan. Ia mencontohkan KTH Sapu Jagat di Desa Setianegara yang mampu memobilisasi KTH lain dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

“Dua tahun terakhir zero fire. Itu bukan kebetulan. Mereka punya persemaian pohon endemik Ciremai, aktif menanam dan merawat,” ungkapnya.

Secara swadaya, KTH membangun sekat bakar, melakukan pembibitan hingga penanaman pohon di berbagai titik. Salah satu persemaian terbesar berada di kawasan Geger Halang. Bibit hasil persemaian tersebut bahkan didistribusikan untuk kegiatan penanaman di sejumlah kawasan wisata dan ODTWA di Kuningan.

“Ketika penanaman besar di Arunika, sekitar 80 orang yang turun itu KTH. Mereka solid,” katanya.

Soliditas itu tidak hanya di Kuningan, tetapi juga lintas wilayah hingga Majalengka. Tercatat sekitar 28 KTH saling mendukung dalam kegiatan konservasi.

Asep mengaku heran karena secara regulasi dasar hukum kemitraan konservasi, zona tradisional, hingga juknis PKS telah jelas. Namun implementasi dinilai berlarut-larut.

“Ini sudah saya sampaikan sampai ke Kementerian. Bahkan sempat ada informasi bahwa zona tradisional di TNGC tidak diketahui di tingkat atas. Artinya, mungkin ada persoalan koordinasi,” ujarnya.

Ia menduga persoalan utama bukan pada warga, melainkan pada alur administrasi internal. Jika terdapat kekurangan teknis, menurutnya, seharusnya disampaikan secara terbuka.

“Misalnya anggota KTH tidak boleh lebih dari 50 orang, kalau 70 ya di-split. Itu teknis. Tapi tidak pernah dijelaskan secara terang,” tambahnya.

Meski demikian, Asep mengapresiasi sikap masyarakat yang tetap kondusif dan tidak melakukan aksi reaktif. Ia terus mengimbau warga untuk bersabar menunggu kepastian hukum.

“Faktanya 25 KTH sudah diverifikasi dan PKS terus berproses. Jangan anarkis,” katanya.

Asep menilai situasi ini seharusnya menjadi pintu masuk bagi pemerintah daerah untuk hadir memfasilitasi masyarakat desa penyangga Gunung Ciremai. Sebab, persoalan ini menyangkut hajat hidup KTH dari 13 desa di Kuningan.

“Kalau dikalikan dengan keluarga mereka, jumlahnya sangat besar. Jangan sampai mereka tercerabut dari gunungnya sendiri,” tegasnya.

Ia mengingatkan, warga desa penyangga hidup berdampingan dengan hutan secara turun-temurun. Pengetahuan menjaga hutan diwariskan lintas generasi. Mereka juga aktif membersihkan sampah di kawasan taman nasional, bahkan hingga lintas kabupaten.

“Ketika diminta turun menjaga hutan, mereka selalu siap. Tapi saat berinteraksi di zona tradisionalnya sendiri, malah distigma. Ini yang miris,” ujarnya.

Menurut Asep, penyadapan pinus tidak serta-merta bisa disamakan dengan perusakan hutan. Pinus merupakan tanaman produksi yang ditanam sejak era Perhutani dan pernah disadap secara legal.

“Sekarang warga sadar getah pinus punya nilai ekonomi untuk bertahan hidup. Tapi malah disebut maling. Padahal aturannya ada,” katanya.

Asep Papay menegaskan dirinya tidak memiliki kepentingan dalam tata niaga HHBK. Ia berdiri, katanya, semata pada sisi kemanusiaan dan keadilan sosial.

“Yang diminta warga sederhana: kepastian hukum. Supaya tidak ada lagi stigma, tidak ada lagi kata-kata yang menyakiti. Harus adil dan fair. Kontribusi KTH nyata. Mereka bukan perusak, mereka penjaga,” pungkasnya.( Red)

  • Penulis: sabakuningannews

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepsek Smp 2 Pancalang

    HUT ke 27 Thn SMPN 2 Pancalang’GEMILANG’ Berbagai Kreasi Di Tampilan

    • calendar_month Rab, 29 Apr 2026
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 88
    • 3Komentar

    sabakuningannews.com.PANCALANG – Semarak peringatan milad ke-27 SMP Negeri 2 Pancalang berlangsung meriah melalui kegiatan bertajuk Gebyar Milad dan Ajang Kreasi Unggulan (GEMILANG) 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menggali potensi siswa sekaligus mempererat kebersamaan antar pelajar di wilayah sekitar. Mengusung tema “Sehat, Gembira Bersama, Meraih Asa Penuh Ceria”, GEMILANG 2026 dirancang sebagai wadah ekspresi, […]

  • Img 20260223 185838

    Nasabah PNM Ikut Pelatihan ‘ Sulap Sampah Jadi Cuan Lewat Klaster Maggot

    • calendar_month Sen, 23 Feb 2026
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 202
    • 2Komentar

    sabakuningannews.com. KUNINGAN — Upaya pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan ekonomi terus menunjukkan progres positif di Kabupaten Kuningan. Melalui program Klasterisasi Budidaya Maggot, sebanyak 30 nasabah PNM Mekaar Unit Jalaksana mendapatkan pelatihan pengolahan limbah organik menjadi komoditas bernilai ekonomi. Program yang dilaksanakan di wilayah Region Cirebon-2 oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM) ini menyasar perempuan prasejahtera, khususnya […]

  • Img 20260309 221053

    Senandung Ramadan KSPSI AGN Hadir kan Penyanyi Religi Opick Di Pendopo

    • calendar_month Sen, 9 Mar 2026
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 174
    • 2Komentar

    Penyanyi Religi Opick

  • Img 20250617 173617

    Stop Kekerasan ‘ Ciptakan Lingkungan Aman ” DPPKB3A Gelar Pelatihan

    • calendar_month Sel, 17 Jun 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 681
    • 2Komentar

    sabakuningannews.com.KUNINGAN – Upaya menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak terus di Kabupaten Kuningan. Merespons kondisi tersebut, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A). Kegiatan ini dilaksanakan melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) menggelar Pelatihan Manajemen dan Penanganan Kasus dalam Rangka Layanan Perlindungan Perempuan yang Memerlukan Perlindungan Khusus, Selasa (17/6/2025), […]

  • Img 20250702 094511

    Hasil Analisis SKPG, 120 Keluarga Kec.Garawangi Dapat Bantuan Pangan

    • calendar_month Rab, 2 Jul 2025
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 478
    • 0Komentar

    sabakuningannews.com.GARAWANGI- Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Ketahanan Pangan menyerahkan bantuan bahan pangan kepada warga yang terdampak rawan pangan berdasarkan hasil analisis Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Penyerahan bantuan dilakukan sebagai upaya percepatan penanggulangan kerawanan pangan di wilayah yang masuk kategori prioritas intervensi. Bertempat di Balai Desa Garawangi kecamatan Garawangi bantuan diserahkan secara simbolis oleh […]

  • Img 20260330 175537

    Kuningan Kabupaten Angklung ? Desa Cibuntu Sudah Lama Jadi Pusat Pelestarian Angklung ‘ Wisatawan Sampai ikut Belajar

    • calendar_month Sen, 30 Mar 2026
    • account_circle sabakuningannews
    • visibility 133
    • 1Komentar

    sabakuningannews.com.PASAWAHAN – Kabupaten Kuningan semakin mantap digadang-gadang sebagai “Kabupaten Angklung”. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab alat musik tradisional angklung diyakini berasal dari Desa Citangtu, Kuningan, sebelum kemudian berkembang pesat di Kota Bandung dan dikenal luas hingga mancanegara. Kini, semangat pelestarian angklung terus hidup dan berkembang di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan. Desa wisata yang telah […]

expand_less