Breaking News
light_mode
Beranda » Sosial » Bertemu Kakek Berusia 80 Tahun, Nama Bupati Dari Dulu Sampe Sekarang? Kakek : SOEKARNO !!!

Bertemu Kakek Berusia 80 Tahun, Nama Bupati Dari Dulu Sampe Sekarang? Kakek : SOEKARNO !!!

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
  • comment 16 komentar
  • print Cetak

sabakuningannews.KUNINGANGAN – Momen mengharukan terjadi usai Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., didampingi istri Hj. Ela serta Wakil Bupati Tuti Andriani, meninjau bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di Desa Garawangi.

Selesai giat, rombongan melihat seorang kakek berusia sekitar 80 tahun yang masih menyusuri jalan sambil memungut barang-barang rongsokan. Melihat kondisi tersebut, Bupati Dian langsung menghentikan langkahnya dan menyapa sang kakek.

“Bah, kenapa masih usaha?” tanya Bupati Dian.

Dengan polos sang kakek menjawab, “cicing di rumah baé karesel.”

Percakapan pun berlanjut. Saat ditanya berapa hasil penjualan rongsok, sang kakek menjelaskan bahwa selama dua minggu ia hanya memperoleh sekitar Rp200 ribu.

Mendengar jawaban itu, Bupati Dian tampak terdiam sejenak.

“Berarti sehari hanya sekitar Rp10 ribu,” ucapnya penuh keprihatinan.

Bupati kemudian bertanya kembali untuk apa uang tersebut digunakan. Jawaban sang kakek justru membuat suasana menjadi haru.

“Buat jajan incu,” jawabnya singkat.

Mendengar itu, Bupati Dian menyampaikan bahwa kasih sayang orang tua kepada anak dan cucunya memang tidak pernah mengenal batas usia.

“Kasih orang tua sepanjang masa. Di usia sekitar 80 tahun, beliau masih mencari rongsokan. Hasilnya bukan untuk dirinya sendiri, tetapi demi bisa memberi uang jajan kepada cucunya,” ungkap Bupati Dian.

Suasana kemudian berubah menjadi hangat ketika Bupati Dian bertanya apakah sang kakek masih mengingat nama Bupati Kuningan sejak dirinya kecil.

Di luar dugaan, sang kakek menjawab, “Yang saya kenal hanya Soekarno.”

Mendengar jawaban tersebut, Bupati Dian sambil tersenyum berkata, “Kalau Soekarno mah Presiden pertama Indonesia, Bah.”

Ucapan itu langsung mengundang gelak tawa seluruh rombongan dan warga yang menyaksikan percakapan tersebut.

Meski berlangsung singkat, pertemuan itu meninggalkan pesan mendalam bahwa perjuangan, kasih sayang, dan pengabdian seorang orang tua kepada keluarganya tidak pernah berhenti, bahkan hingga usia senja.

Kesimpulan: Kisah sang kakek menjadi pengingat bahwa cinta seorang orang tua tidak diukur dari besarnya penghasilan, melainkan dari ketulusan hati. Di balik penghasilan yang hanya sekitar Rp10 ribu per hari, masih tersimpan kasih sayang yang luar biasa kepada cucunya. Pertemuan sederhana itu sekaligus menjadi refleksi bahwa pemerintah perlu terus hadir memperhatikan para lansia yang masih bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga.(RI)

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less