Breaking News
light_mode
Beranda » Agama » Pangeran Djatikusumah Meninggal, Bupati Dian Bertakziah ke Paseban Cigugur

Pangeran Djatikusumah Meninggal, Bupati Dian Bertakziah ke Paseban Cigugur

  • account_circle sabakuningannews
  • calendar_month Rabu, 21 Mei 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Sesepuh  adat dan budaya Sunda, Pangeran Djatikusumah Maniswara Tedjabuwana Alibassa Kusumah Wijaya Ningrat, berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa dalam usia 93 tahun, Jumat (16/5/2025) pukul 10.10 WIB. 

Meninggalnya sosok yang akrab disapa Rama Pangeran Djatikusuma itu meninggalkan duka mendalam, terutama bagi Masyarakat Adat Karuhun Sunda Wiwitan, Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Turut berduka cita Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si, bertakziah ke Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, pada Jumat malam setibanya di Kuningan, usai  mengikuti  kegiatan bersama Gubernur dan Kapolda  Jawa Barat di Bandung.

“Kita kehilangan sosok tokoh budaya yang senantiasa menebarkan nilai-nilai kebaikan, kebijaksanaan, dan pelestarian budaya. Semoga almarhum diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan,” ungkap Bupati Dian saat  belasungkawa.

Informasi dari pihak keluarga, Juwita Djatikusuma dan  Dewi Kanti menyampaikan kepada Bupati Dian, bahwa jenazah almarhum  akan dimakamkan pada Minggu, 18 Mei 2025, sebelum Pukul 12.00 WIB, di kawasan Curug Go’ong, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur.

Sepanjang hidupnya, Rama Djati dikenal sebagai sesepuh adat sekaligus  mengabdikan diri pada pelestarian nilai-nilai kearifan lokal. Ia dikenal sebagai pribadi bijaksana yang mendorong setiap orang untuk menggali makna sejati hidup melalui perdamaian, menghormati perbedaan, ketulusan, rasa syukur, dan kebijaksanaan batin.

Pangeran Djatikusumah merupakan anak dari Pangeran Tedjabuwana Alibassa dan cucu dari Pangeran Sadewa Madrais Alibassa Kusumah Wijaya Ningrat—tokoh utama gerakan Agama Djawa Sunda (ADS) yang menjadi cikal bakal Masyarakat Adat Karuhun Sunda Wiwitan. Ibunya adalah Ratu Saodah.

Dalam pandangannya  tentang upacara Seren Taun, Rama Djati menyampaikan banyak inti dari tradisi tersebut bukan hanya sebagai bentuk syukur dan permohonan berkah, tetapi juga sebagai cara untuk menjaga warisan luhur para leluhur dan memperkuat akar budaya bangsa melalui kearifan lokal

  • Penulis: sabakuningannews

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less