Membaca Kuningan, Menghadirkan Bung Karno: Ikhtiar GMNI Menggali Kembali Jati Diri Bangsa
- account_circle admin
- calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
- comment 14 komentar
- print Cetak

sabakuningannews.KUNINGAN – Menghadapi tantangan disrupsi nilai dan pergeseran moral di era modern, momentum pergantian kepengurusan menjadi pijakan penting untuk merefleksikan kembali dasar-dasar kebangsaan. Semangat inilah yang diusung dalam konferensi pergantian kepengurusan persatuan alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kuningan yang mengambil tema besar: “Membaca Kuningan, Menghadirkan Bung Karno.”
Agenda strategis ini dirancang bukan sekadar seremonial pergantian estafet kepemimpinan, melainkan sebagai ruang kontemplasi untuk menanamkan kembali cita-cita luhur para founding fathers di tanah Kuningan.
Rana Suparman, tokoh senior sekaligus inisiator gerakan, menegaskan bahwa tema “Membaca Kuningan” merupakan ajakan untuk membedah, memahami, dan mengaktualisasikan seluruh potensi daerah demi kesejahteraan rakyat.
“Kita ingin menanamkan kembali cita-cita para pendiri bangsa. Bagaimana kita membaca Kuningan; kekayaan apa yang dimiliki daerah ini, baik dari aspek kebudayaan, kepribadian, nation and character building, hingga pengelolaan kekayaan daerah seperti APBD,” ujar Rana dalam pemaparannya.
Menurutnya, seluruh instrumen kebijakan daerah harus bermuara pada satu tujuan, yaitu menjawab tantangan zaman dan menumbuhkembangkan kepribadian luhur masyarakat Kabupaten Kuningan yang berbasis pada nilai-nilai Pancasila.
Rana juga menitipkan pesan mendalam kepada para alumni GMNI yang kini berkiprah di berbagai sektor strategis, baik di jajaran birokrasi, legislatif, maupun wilayah publik lainnya. Ia meminta agar para alumni aktif mengawal jalannya pemerintahan melalui kebijakan yang berorientasi pada rakyat (pro-rakyat) serta tidak segan melakukan otokritik yang konstruktif.
“Bagi alumni-alumni GMNI yang sudah berada di ruang pengambil kebijakan, maupun yang berada di luar sistem untuk melakukan otokritik terhadap jalannya pemerintahan, arahkanlah dinamika itu ke ruang pemikiran para pendiri bangsa. Kita ingin Indonesia ini tetap otentik,” tegasnya.
Ia menambahkan, identitas diri sebagai bangsa Indonesia harus tercermin nyata dalam kehidupan sehari-hari. “Saya Indonesia, maka saya harus tampil dengan kepribadian, martabat, dan jati diri Indonesia yang kuat.”
Saat ditanya mengenai relevansi pemikiran Bung Karno di Kabupaten Kuningan saat ini, Rana menggarisbawahi adanya pergeseran nilai-nilai sosial yang cukup memprihatinkan di tengah masyarakat. Pancasila yang digali Bung Karno dari kristalisasi nilai-nilai luhur Nusantara kini mulai terpinggirkan oleh arus modernisasi yang tidak tersaring dengan baik.
“Dulu ada peribahasa ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Artinya, ada keteladanan yang diikuti meski dengan dinamis. Tapi hari ini, situasinya bergeser menjadi ‘guru kencing berdiri, murid ngencingin guru’. Ini adalah potret nyata terjadinya degradasi moral dan hilangnya rasa hormat terhadap nilai kemitraan serta keteladanan,” jelas Rana.
Oleh karena itu, konferensi ini diharapkan mampu menjadi ruang edukasi dan pengingat bagi seluruh kader dan alumni untuk menarik kembali nilai-nilai yang mulai melenceng tersebut.
“Pemikiran Bung Karno harus kita hidup kan kembali dalam kehidupan sehari-hari demi membangun kembali character state—karakter negara dan bangsa yang kokoh, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” pungkasnya.(RI)
- Penulis: admin



